Kerusuhan di Iran: Warga Turun ke Jalan, Kutuk Khamenei, Masjid Dilalap Api

Demonstran terus membanjiri jalan-jalan di Iran, memprotes tindakan represif pemerintah terhadap gelombang protes yang kian meluas. Situasi ini

Demonstran terus membanjiri jalan-jalan di Iran, memprotes tindakan represif pemerintah terhadap gelombang protes yang kian meluas. Situasi ini memburuk setelah pemerintah memberlakukan pemadaman internet pada Kamis (8/1/2026).

Pemadaman akses internet tersebut telah mengisolasi para demonstran dari dunia luar. Namun, video yang bocor dari Iran menunjukkan ribuan orang turun ke jalan di Teheran sepanjang malam hingga Sabtu pagi. Mereka meneriakkan slogan "Matilah Khamenei," merujuk pada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dan "Hidup Shah."

Protes kembali meletus pada Sabtu malam, dengan warga berkumpul di distrik utara Teheran, sebagaimana terlihat dalam sebuah video yang diverifikasi oleh AFP. Video yang beredar di TRT World juga menunjukkan salah satu masjid di Iran terbakar akibat protes tersebut.

Di Lapangan Punak Teheran, kembang api dinyalakan di atas kerumunan demonstran yang memukul panci dan meneriakkan slogan-slogan dukungan untuk dinasti Pahlavi yang digulingkan setelah revolusi Islam 1979.

Kerusuhan di Iran: Warga Turun ke Jalan, Kutuk Khamenei, Masjid Dilalap Api

Menurut laporan The Guardian, massa demonstran juga melakukan unjuk rasa di jalanan Mashhad, di mana api terlihat berkobar. Aksi ini menjadi simbol pembangkangan di kota kelahiran Khamenei, yang sebelumnya mengutuk para demonstran sebagai "perusak" dan menyalahkan Amerika Serikat atas provokasi perbedaan pendapat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi jika otoritas Iran membunuh para demonstran, sebuah sikap yang menuai kecaman keras dari Teheran. Pada Jumat (9/1/2026), Trump menyatakan bahwa otoritas Iran "dalam masalah besar," dan memperingatkan, "Sebaiknya Anda tidak mulai menembak, karena kami juga akan mulai menembak."

Pada Sabtu malam, Trump kembali menyatakan bahwa AS "siap membantu" di tengah meningkatnya penindasan terhadap para demonstran di Iran oleh otoritas republik Islam.

Trump menulis di media sosialnya, Truth Social, "Iran mengincar KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!" tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Pemerintah Iran telah memperingatkan warganya untuk tidak berpartisipasi dalam protes pada hari Sabtu. Jaksa Agung negara itu, Mohammad Mahvadi Azad, mengatakan bahwa siapa pun yang terlibat akan dianggap sebagai "musuh Tuhan," sebuah tuduhan yang dapat berujung pada hukuman mati. Televisi pemerintah kemudian mengklarifikasi bahwa siapa pun yang membantu para pengunjuk rasa juga dapat menghadapi tuduhan serupa.

Reza Pahlavi, putra dari mantan Shah Iran yang diasingkan, menyerukan para pengunjuk rasa untuk turun ke jalan pada Sabtu dan Minggu serta merebut kembali kendali kota mereka. Pahlavi, yang semakin populer di kalangan pengunjuk rasa saat ini, meminta warga untuk mengibarkan bendera "singa dan matahari" yang digunakan sebelum tahun 1979, di masa pemerintahan ayahnya.

"Tujuan kita bukan lagi hanya untuk turun ke jalan. Tujuannya adalah untuk bersiap merebut pusat kota dan mempertahankannya," ujarnya, seraya berjanji akan segera kembali ke Iran.

Pemblokiran berkelanjutan terhadap internet dan jaringan seluler menyulitkan media internasional untuk memperkirakan skala demonstrasi, yang merupakan demonstrasi terbesar di Iran dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini juga menimbulkan tantangan serius bagi legitimasi kekuasaan rezim.

LihatTutupKomentar